Ilustrasi EV terbakar. (Foto : Detik.com)
Autohint - Insiden kebakaran mobil listrik (electric vehicle/EV) di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara, yang menewaskan lima orang diduga kuat dipicu oleh masalah pada sistem pengisian daya. Titik awal api diperkirakan berasal dari proses charging yang tidak didukung infrastruktur kelistrikan memadai.
Pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan kebakaran EV kerap berawal dari penggunaan charger berkualitas rendah atau instalasi listrik rumah yang tidak dirancang untuk menahan arus tinggi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan overheating, korsleting, hingga percikan api awal.
Meski jenis kendaraan belum diumumkan secara resmi, mobil listrik yang terbakar diduga merupakan produk Wuling. Situasi semakin berbahaya karena lokasi pengisian berada dekat bahan mudah terbakar seperti thinner dan cat, yang mempercepat penyebaran api.
Yannes menambahkan, setelah api awal muncul, baterai kendaraan—termasuk jenis lithium ferro phosphate (LFP)—berpotensi mengalami thermal runaway akibat panas ekstrem. Kondisi ini memicu pelepasan energi tak terkendali, gas mudah terbakar, serta asap beracun. Dampak kebakaran diperparah karena kendaraan diparkir di ruang tertutup dan sempit, sehingga akumulasi panas dan gas menghambat evakuasi serta proses pemadaman.
Sebagai langkah pencegahan, pemilik EV disarankan menggunakan charger asli bersertifikat, memasang sistem pemutus arus otomatis oleh teknisi kompeten, serta rutin memeriksa kabel pengisian. EV juga sebaiknya diparkir di area terbuka dengan ventilasi baik, jauh dari bahan mudah terbakar, dan dilengkapi APAR khusus baterai.
Insiden ini terjadi pada Kamis (18/12) pukul 20.13 WIB di Jalan Lopis Teluk Gong, Penjaringan. Menurut Damkar Jakarta Utara, kebakaran bermula dari ledakan saat pengisian daya yang kemudian menyambar thinner. Proses pemadaman melibatkan 22 unit mobil pemadam dan 110 personel, dengan api dinyatakan padam total keesokan paginya.
