AUTOHINT - Intensitas hujan tinggi yang kerap memicu banjir di berbagai daerah Indonesia menuntut pemilik kendaraan, khususnya mobil hybrid, untuk lebih berhati-hati saat berkendara. Sayangnya, masih banyak pengemudi yang nekat menerobos genangan tanpa memahami risiko yang mengintai kendaraan berteknologi elektrifikasi tersebut.
Mobil hybrid mengombinasikan mesin pembakaran internal dengan sistem kelistrikan bertegangan tinggi. Kondisi ini membuat paparan air, terutama dalam jumlah besar, berpotensi menimbulkan kerusakan serius apabila melewati batas aman.
Pengamat otomotif sekaligus dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menegaskan bahwa genangan air yang aman dilalui mobil hybrid sebaiknya tidak sampai melewati bagian bawah kabin. Menurutnya, air yang masuk ke sistem asupan udara mesin dapat menyebabkan mesin mati mendadak, bahkan berisiko menimbulkan kerusakan internal seperti piston bengkok akibat water hammer. “Jika air sudah masuk ke kabin, biaya perbaikannya bisa sangat besar,” jelasnya saat dihubungi, Senin (19/1/2026).
Meski pabrikan telah membekali mobil hybrid dengan komponen dan konektor kelistrikan yang dirancang tahan air, bukan berarti kendaraan sepenuhnya kebal terhadap banjir. Risiko korsleting dan kerusakan tetap ada, terutama jika genangan terlalu tinggi atau dilalui dalam waktu lama. Karena itu, Jayan menyarankan pengemudi untuk tidak memaksakan kendaraan menerjang banjir.
Sementara itu, Gesang Pranoto dari Technical After Sales Support Department Auto2000 menyebutkan bahwa secara umum batas aman genangan air pada mobil hybrid tidak jauh berbeda dengan mobil bermesin konvensional. Namun, ia mengingatkan bahwa dampak kerusakan pada mobil hybrid bisa lebih kompleks dan mahal jika terjadi gangguan pada sistem kelistrikannya.
Dengan demikian, langkah paling bijak bagi pemilik mobil hybrid adalah menghindari genangan air yang ketinggiannya tidak bisa dipastikan, demi menjaga keselamatan dan mencegah kerusakan kendaraan.

