AUTOHINT - Dua bangsa yang dipisahkan oleh bahasa yang sama hampir tak pernah sepakat soal seperti apa seharusnya sebuah mobil.
Ini bukan sekadar olok-olok klasik orang Inggris soal istilah “trunk”, “turn signal”, atau “driving stick”. Di Amerika Serikat, kemewahan identik dengan ukuran. Deluxe berarti “buat lebih besar lagi”. Tak heran, selama ini pabrikan Negeri Paman Sam jarang dianggap ancaman serius di strata tertinggi mobil mewah dunia. Filosofi mereka terasa sederhana: tempelkan panel kayu walnut ke kapal induk USS Gerald R. Ford, lalu ajak berjudi di Las Vegas.
Soal istilah pun kita tak pernah sepakat. Di Inggris, sesuatu yang benar-benar kelas satu akan disebut sebagai “Rolls-Royce”-nya bidang tersebut. Sementara di Amerika, yang terbaik dari yang terbaik selalu dianalogikan sebagai “Cadillac”-nya sesuatu.
Lalu muncul pertanyaan besar: siapa sebenarnya pembuat mobil mewah terbaik di dunia? Rolls-Royce, atau… Cadillac? Serius?
Jawabannya kini tak lagi bisa ditertawakan. Amerika akhirnya melancarkan perlawanan yang benar-benar serius, berkelas, dan tanpa rasa malu terhadap dominasi Inggris dalam urusan gengsi otomotif.
Inilah Cadillac Celestiq—sedan Amerika paling mahal, paling ambisius, dan paling nekat yang pernah dibuat. Saat pertama diluncurkan, harganya sudah menembus US$340 ribu. Untuk model tahun 2026, banderolnya melonjak melewati US$400 ribu. General Motors bukan sekadar memarkir tank di halaman croquet Goodwood, tapi seperti mengizinkan serangan udara langsung ke jantung kemewahan Inggris.
Cadillac jelas bermain di kandang sendiri. Kami membawa Rolls-Royce Black Badge Spectre dengan spesifikasi yang relatif kalem ke Detroit untuk berhadapan langsung dengan Celestiq—sebuah leviathan sepanjang hampir 5,5 meter dengan bobot 3.102 kg. Mobil ini tak akan pernah dijual di Eropa. Selain karena strategi, pertanyaan sederhananya: akan diparkir di mana? America first.
Celestiq hanya bisa dipesan khusus di Amerika Serikat, dan itu pun terbatas untuk klien Cadillac paling fanatik. Hanya segelintir dealer yang diberi wewenang menerima minat pembelian. Produksinya dibatasi maksimal dua unit per hari. Tak ada dua Celestiq yang identik—setiap mobil dikustomisasi secara mendalam di markas futuristis GM, melalui konsultasi langsung antara pemilik dan jajaran elite tim desain.
Detroit seolah tak bisa mengalihkan pandangan dari Celestiq berwarna oranye darah ini. Aura kehadirannya kuat—bukan hanya karena ukurannya, tapi juga detail-detail tak lazim. Lampu depannya vertikal, dengan lampu sein tersembunyi di ujung garis perak tipis yang membingkai wajah mobil. Hidung berlampu belakang memang terasa kurang elegan jika dibandingkan grille Parthenon Rolls-Royce Spectre yang dipahat presisi dan menyala anggun. Namun kesan itu cepat menghilang ketika mata mulai menyusuri panjang bodi Celestiq.
Dan di situlah, pertarungan sesungguhnya antara kemewahan Inggris dan ambisi Amerika benar-benar dimulai.

